![]() |
Jelang Muktamar ke-35 NU, Ketua BEM PTNU Se-Nusantara Soroti Pentingnya Kepemimpinan Berbasis Gagasan (foto dok ketua BEM PTNU)
Dalam pandangannya, Muktamar ke-35 perlu menjadi ruang bagi para ulama, kiai, kader, dan seluruh elemen NU untuk membahas berbagai tantangan yang dihadapi organisasi dan masyarakat.
Ia menggunakan istilah basyiroh sebagai gambaran tentang kejernihan dalam membaca keadaan dan menentukan arah organisasi. Sementara istilah bisyaroh dalam tulisannya digunakan untuk menggambarkan pemberian, yang dalam konteks politik organisasi dapat menjadi perhatian apabila berkembang menjadi praktik transaksional.
“NU bukan sekadar organisasi yang memperebutkan posisi. NU adalah rumah besar tempat jutaan umat menggantungkan harapan,” tulis Muhammad Ikhsanurrizqi dalam pandangannya.
Menurutnya, pembahasan dalam muktamar seharusnya tidak berhenti pada persoalan siapa yang mendapatkan dukungan dalam kontestasi kepemimpinan. Berbagai isu strategis, seperti pendidikan pesantren, ekonomi warga, kemandirian organisasi, transformasi digital, lingkungan, politik kebangsaan, serta regenerasi kader muda, dinilai perlu menjadi bagian dari perhatian.
Muhammad juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang mampu membaca perubahan zaman tanpa meninggalkan tradisi dan karakter NU.
Ia menilai generasi muda NU membutuhkan organisasi yang mampu memberikan arah, ruang untuk berkembang, sekaligus menjawab tantangan baru, termasuk perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.
Dalam tulisannya, Muhammad juga mengingatkan bahwa tidak semua pemberian atau bisyaroh dapat dimaknai sebagai transaksi. Menurutnya, istilah tersebut memiliki makna yang lebih luas dalam tradisi pesantren. Namun, ia mengingatkan agar pemberian tidak berubah menjadi alat untuk memengaruhi loyalitas atau kepentingan dalam kontestasi organisasi.
“Muktamar adalah forum tertinggi untuk mempertanggungjawabkan perjalanan NU sekaligus merumuskan arah masa depannya,” ujarnya dalam tulisan tersebut.
Karena itu, ia berharap Muktamar ke-35 dapat menjadi momentum untuk memperkuat gagasan dan merumuskan arah organisasi, bukan semata-mata menjadi arena perebutan dukungan antarcalon.
Ia juga mengajak seluruh elemen NU menempatkan kepentingan jam’iyah dan kemaslahatan umat sebagai pertimbangan utama dalam menentukan arah kepemimpinan.
“Jadikan muktamar sebagai ruang untuk memenangkan gagasan, bukan sekadar memenangkan orang,” tulisnya.
Muhammad berharap para pengambil keputusan dalam Muktamar ke-35 dapat mengambil keputusan dengan kejernihan, keluasan pandangan, serta mempertimbangkan masa depan NU dan kontribusinya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Sumber: Ketua BEM PTNU Se-Nusantara, Muhammad Ikhsanurrizqi
Editor: fikusdesa.com












0Komentar