![]() |
| Ketua DPW PPP Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, saat memberikan keterangan kepada awak media usai menghadiri Muscab IX PPP Kabupaten Ciamis, Sabtu (25/4/2026). |
Ciamis, Fokusdesa.com — Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jawa Barat, Uu Ruzhanul Ulum, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Musyawarah Cabang (Muscab) IX PPP Kabupaten Ciamis yang digelar pada Sabtu, 25 April 2026, di Kantor DPC PPP Kabupaten Ciamis, Jalan Kertasari No. 1, Ciamis.
Kegiatan Muscab IX PPP Kabupaten Ciamis tersebut merupakan bagian dari agenda organisasi yang mengacu pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.
“Alhamdulillah Muscab IX PPP Kabupaten Ciamis dapat dilaksanakan. Ini bukan perintah ketua DPW atau keinginan ketua DPC, tetapi amanat organisasi yang harus dijalankan,” ujar Uu saat diwawancarai wartawan.
Dalam kesempatan tersebut, Uu berharap kepengurusan baru yang terpilih memiliki keberanian untuk tampil dalam kontestasi politik daerah, termasuk mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Menurutnya, salah satu tugas penting partai adalah melahirkan pemimpin, tidak hanya di internal organisasi, tetapi juga di tingkat pemerintahan.
“Saya berharap siapa pun yang terpilih memiliki keberanian untuk maju, termasuk menjadi calon bupati. PPP harus mampu melahirkan pemimpin daerah, bukan hanya pemimpin internal partai,” tegasnya.
Selain itu, Uu juga mendorong seluruh kader PPP di Ciamis untuk menjadi teladan di tengah masyarakat, khususnya dalam menunjukkan nilai-nilai keislaman. Ia menilai bahwa karakter religius masyarakat Ciamis sejalan dengan identitas PPP sebagai partai berbasis Islam.
“Kader PPP harus menjadi panutan. Masyarakat Ciamis yang religius sangat dekat dengan nilai-nilai yang diusung PPP. Oleh karena itu, kader harus mampu mencerminkan identitas tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Lebih lanjut, Uu menekankan bahwa ukuran partai besar tidak hanya dilihat dari lamanya berdiri, tetapi dari kekuatan representasi di parlemen. Ia berharap PPP di Ciamis dapat meningkatkan jumlah kursi legislatif sebagai indikator kekuatan politik.
“Partai besar itu bukan karena usia, tapi karena jumlah wakil di parlemen. Meski sudah lama berdiri, kalau kursinya sedikit, belum bisa disebut besar. Sebaliknya, partai baru pun bisa besar jika memiliki banyak wakil rakyat,” jelasnya.
Uu juga mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang dihadapi partai politik saat ini, di antaranya meningkatnya pragmatisme pemilih, munculnya partai-partai baru berbasis keislaman, serta kecenderungan masyarakat yang lebih memilih figur dibandingkan ideologi partai.
“Masyarakat saat ini cenderung pragmatis, bahkan ada istilah ‘wani piro’. Ini menjadi tantangan bagi kita untuk terus memberikan edukasi politik yang sehat. Selain itu, kemunculan partai-partai baru dan kuatnya pengaruh figur juga harus menjadi perhatian serius,” katanya.
Menutup pernyataannya, Uu menegaskan bahwa sebagai pimpinan wilayah, dirinya harus bersikap netral dalam dinamika internal partai. Ia juga menekankan pentingnya semangat kader untuk berkompetisi secara sehat dalam membangun partai.
“Sebagai ketua wilayah, saya tidak bisa berpihak. Semua kader memiliki hak untuk maju. Tugas kita adalah mendoakan dan memastikan proses berjalan dengan baik sesuai aturan,” pungkasnya.
(ARF)












0Komentar